Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

untukmu Sahabatku, yang aku sayangi 2


Persahabatan ini akan tetap berada di tempatnya.
Begitu banyak nikmat yang telah kita kecap bersama. Nikmat dan
manisnya sebuah persahabatan yang tulus. Persahabatan yang membuat kita dapat
 saling memberikan manfaat bagi yang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat menjadi dan memberikan manfaat bagi lingkungannya..
Tak henti-hentinya ku bersyukur pada-NYA, yang telah mempertemukan aku dengan mu.
Pertemuan yang ku yakin telah diatur-NYA untuk kita agar kita saling mengenal, saling belajar dan mendewasakan diri, dan memberi dan menerima banyak manfaat satu sama lain.
Dan aku pun tak akan henti-hentinya tetap terus bersyukur pada-NYA, saat segala yang telah ada pada persahabatan kita harus berakhir. Aku yakin kamu pun akan merasakan hal yang sama sepertiku. Bersama mensyukuri akhir yang terjadi pada saat kita berdua telah saling menguatkan satu sama lainnya. Saat kita sepakat untuk mengakhiri semuanya dengan indah, yakinlah bahwa semuanya ini hanyalah perpisahan sesaat,

Sahabat, walaupun ke depannya kita tidak bisa saling mendampingi dan berjalan beriring, yakinlah bahwa aku akan selalu ada untukmu dan terus mendukungmu dalam do’a.
Jangan pernah sungkan untuk menemui dan menghubungiku bila kau butuh orang untuk berbagi semua kesedihanmu. Karena kita adalah sahabat sejati.
satu pesanku untuk mu.
Saat kau dihadapkan pada pilihan, diam nyaman atau bergerak untuk lebih baik, dua-duanyanya ada resikonya.
Berani untuk melangkah itu  syarat awal.
Man jada wa jada. If you know it, then do it. Knowing the road is not the same to walking the road. It’s a big difference.


Sahabat
jangan pernah acuhkan dan lupakan aku. Mungkin raga kita tak lagi beriringan, tapi hati dan jiwa kita akan selalu saling berdampingan.
                                                                                Salam manis dariku

                                                                                     Sahabatmu
                                                                      (yang semoga masih kau anggap)
 Sumber: http://anjuncumi2.blogspot.com (dengan sedikit editan)

Untukmu Sahabatku, yang aku sayangi 1

Bagaimana kabarmu sahabatku? Telah lewat beberapa bulan kau tidak menghiraukanku.
Kita juga tak saling sapa, tak saling mengenal atau bahkan mungkin sudah melupakan kalau kita memang pernah kenal…
Sejujurnya, aku kangen. Pada kebersamaan kita, pada canda tawa kita, pada perhatian dan kebaikan hatimu juga pada cerita-cerita sedihmu.

Adakah kau merasakan rindu yang sama, sahabat? Bila kau merindukannya, bukalah hatimu untuk memaafkanku, bila kau tidak, maka kau harus memaafkanku demi cintamu pada Yang Maha Pemaaf.

Bukankah kau sangat mengetahui bahwa Dia membenci umat yang memutuskan silaturahim?
Hari-hari telah berlalu sedang Rasul-Mu memberi batas waktu tiga hari saja.

Sejak kata-kataku pada waktu itu , sikapmu berubah padaku. Sejak itu pula aku terus bertanya-tanya.

Apakah sebuah kesalahan bila aku ingin menjadi cermin bagi dirimu, sahabatku?
Barisan kalimat yang kurangkai dengan sayang, semata ingin agar kau bangkit dari keterpurukan, membalut luka, menghapus air mata, untuk kemudian melangkah dengan kelapangan dada.

Ah, sahabatkuaku memang tak cukup arif untuk memberimu nasihat.
Mungkin seharusnya aku tetap menjadi pendengar yang baik dan motivator bagimu.
Tak sepatutnya aku menasihatimu di saat kepercayaanmu padaku belum lagi pulih.
Yah… walau kau coba menguburnya jauh di dasar hatimu, aku dapat merasakan kepercayaan itu tidak mudah untuk kau hadirkan kembali setelah konflik yang terjadi di antara kita beberapa bulan terakhir ini, bahkan semenjak kita mulai dekat, saat aku mulai merasakan sesuatu yang mungkin tidak semestinya ada. Semenjak saat itu, kita selalu terlibat konflik.
Entah aku yang memulainya karena perasaanku yang tak bisa ku pahami ini, atau karena sesuatu hal yang tak ingin diungkapkan dan mungkin ingin mengingkarinya.

Tapi aku tak pernah bisa untuk membiarkanmu sendiri, tak ada teman..inginku selalu ada saat kau sedang membutuhkan teman...sedang ingin bercerita tentang masalahmu, terutama tentang orang yang kau sayangi...
Aku berusaha untuk bisa menjadi pendengar yang baik dan pemberi solusi.
Aku hanya ingin bisa menjadi yang terbaik buatmu...

Malam itu, usai waktu maghrib, entah kita berbicara apa.. 

Aku yakin saat itu akan berlangsung lama...namun,tidak..
aku menunggumu, mencoba membiarkanmu, apakah kau masih merasakan hal itu...
Kau menghancurkan rasa nyaman itu,
Aku ingin tahu apa sih sebenarnya yang kau rasakan itu???
Kenapa harus seperti ini, seolah-olah kau ingin mempermainkan perasaanku yang tulus ini...
mmm... ya..mungkin memang pantas!! pantas hatiku dan perasaanku kau mainkan,,,
mungkin juga karena kau merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan ini kepada orang lain..
aku  ingin bertanya suatu hal padamu…
Aku bener-bener bingung dengan sikapmu yang kadang tak bisa ku terima dengan logikaku…sehingga sering membuatku kecewa, marah, sedih, dan gila saat mengingat tingkahmu yang tidak karuan ini, sikapmu yang membuatku selalu merubah pandangan terhadapmu…
Kenapa sikapmu sering berubah?? kemaren kau bgini..hari ini kau bgitu…sulit buatku tuk memahami apa yang kamu mau…
Kau membuatku selalu membohongi perasaan…membohongi sikapku dihadapan orang banyak…mungkin mereka yang tidak tahu apa-apa tentang ini menganggap bahwa aku baik-baik aja..namun, aku tak bisa terus-terus begini…bersikap manis dihadapan oranglain, sok ketawa-ketawa, sok terlihat bahagia…padahal batinku tidak…
Mungkin itu juga yg kamu rasakan saat ini…
Tapi aku pengen..gag ada lagi kemunafikan ini…aku lelah membohongi dan memunafikkan diri ku…dan aku yakin kamu juga merasakan demikian..
Kalaupun tak bisa, aku pengen kita saling menjaga perasaan…aku menjaga perasaanmu, dan kamu juga menjaga perasaanku..
Aku hanya ingin tak ada lagi konflik..pengen kita deket kayak dulu… (kalaupun masih bisa dan kamu jg menginginkannya)

Sebisa mungkin kuluangkan waktu untuk mendengar keluhan-keluhanmu, bahkan terkadang aku terlalu ingin menyelam jauh ke dasar hatimu, yang kau tanggapi dengan dingin.
Tapii…
Hidup begitu penuh dengan pilihan . . .
Hidup atau tidak hidup (untuk tidak mengatakan ‘mati’), berjumpa atau berpisah,
mendekat atau menghindar, mempertahankan atau melepaskan, mengingat atau melupakan . . .
Dan berjumpa denganmu adalah awal . . . ketika aku memulai segalanya untuk:
mengenalmu, jatuh hati padamu, mendekatimu, merasa sakit lantaran merindukanmu, berbahagia, mencintaimu, mengharapkanmu, mengira tak cukup baik bagimu, mempertahankanmu… hingga pada satu titik melepaskanmu…

Kadang aku bertanya, bagaimana situasi akan berpihak padaku ketika aku yang dulu justru berdebat dengan waktu perihal kehadiranmu . . .
Tentu tidak akan sama…
Tapi segalanya sudah terlewati, bukan?
Aku dengan kehidupanku, sedang dirimu dengan kehidupanmu.
Maka pada akhirnya aku memilih untuk… terus mengingat kenangan, tentang aku dan kamu..
Bukan untuk menyesali, tapi mensyukuri hadirmu.. walau dalam jenak…
“Terima kasih.”
Sudahkah aku mengatakannya padamu?
Jangan kira kamu mengerti tentang aku.
Mungkin itu kata yang akan kau ucapkan ketika aku berbicara didepanmu dan sok tahu tentang semua perihal yang ada padamu..
Kau benar sahabat, satu tahun belumlah cukup untuk aku dapat mengerti dirimukarena itu, ijinkan aku tetap di sisimu untuk berusaha lebih keras lagi belajar mengerti.

Sahabatku, maafkanlah aku, bukalah hatimu untuk kembali mempercayaiku, untuk kembali merajut persahabatan yang indah seperti dulu,
Kita mengetahui semuanya akan berakhir seperti ini,
karena sedari awalpun sesungguhnya kita sudah mengadakan persiapan
untuk itu.
Tapi tetap saja, bila waktu itu akhirnya tiba dan menghampiri kita
akan ada semburat kesedihan yang kita rasakan.

Ini kisahku, apa kisahmu? #2


Ini sudah hari keempat aku menunggu pria itu lewat di taman dekat sekolahku, berharap bisa bertemu lagi dengannya. Hari semakin terik, hawa panas siang ini benar-benar membuat tubuhku gerah. Ku putuskan membeli minum untuk melepaskan dahaga yang menyiksa siang ini. Sambil menunggu penjualnya datang, ku duduk di bangku depan warung kecil tersebut. Tanpa pikir panjang aku pesan satu botol minuman dingin pada seseorang yang berdiri di samping ku, “ Mas minuman dingin satu ya?”, pesanku. “ Yang ini mau mbak?”, sambil menyodorkan sebotol minuman teh. Tak sempat aku menoleh, langsung aku sodorkan uangku. “Ya makasih mas, ini mas uangnya ambil aja kembaliannya”, kataku sambil menerima botol minuman. “Maaf mbak, saya bukan penjualnya”, jawab pria itu. Aku langsung menoleh ke atas dan astaga pria ini…
Tanpa basa-basi aku langsung menyerahkan buku hariannya dan kami pun akhirnya bercerita panjang lebar. Beberapa saat kemudian aku mengajaknya main ke rumah untuk melanjutkan ceritanya. Kebetulan ibu belum pulang dari kerja hanya ada bi Inah di rumah. Dia pun bercerita siapa perempuan yang ada di buku hariannya tersebut. Bertahun-tahun lamanya ia mencari perempuan itu dan berharap masih bisa bertemu meski sekejap saja. Awalnya dia juga kaget saat bertemu denganku, karena wajahku mirip sekali dengan perempuan yang ada dalam foto itu. Di tengah obrolan kita, tiba-tiba ibu datang dan serempak kita menoleh ke ibu. Dan betapa kagetnya ibu saat melihat pria itu…
Ya Tuhan ternyata pria itu tidak lain kakak kandungku yang selama ini dicari ayah dan ibu. Dulu sewaktu masih balita ibuku menitipkan kakak ke bibiku yang tinggal di Surabaya. Saat itu kondisi perekonomian keluarga kami sedang di uji dan akhirnya mereka memutuskan untuk merantau ke Jakarta mencari pekerjaan yang lebih layak. Pada suatu hari ibu melihat berita di TV bahwa terjadi kebakaran besar-besaran di Pasar dekat salah satu Stasiun besar di Surabaya. Sedangkan rumah bibi tidak jauh dari tempat kejadian. Kabar terakhir yang mereka dengar dari sanak saudara, bibi telah meninggal dunia tapi kakak tidak diketemukan.
Semenjak kejadian itu orangtuaku sangat sedih dan terus berusaha melacak keberadaan kakak. Ya inilah takdir dari Tuhan, kita dipertemukan kembali lewat ketidaksengajaanku menabraknya beberapa hari yang lalu. Foto yang ia simpan itu satu-satunya barang yang ia temukan saat kebakaran naas itu terjadi. Berharap melalui foto itu ia dapat menemukan kembali keluarganya.
Ibu pun bahagia bukan kepalang, anak laki-lakinya yang selama ini beliau cari ada di depan mata. Keyakinan beliau bertambah saat melihat tanda di ujung jari telunjuk kiri kakak. Itu satu-satunya tanda yang sangat ibu ingat tentang kakak. Pantas saja aku sering memimpikan pria tampan itu dan sangat merindukannya, ternyata dia adalah kakakku. Ya kakakku Alfarizi namanya.
“Mila, ayo ajak kakak mu ke kamar, biarkan dia istirahat sejenak jangan diajak ngobrol terus”, kata ibu sambil tersenyum lega. “Bentar Bu, aku masih kangen ma kakak, ahh tak ku sangka…aku punya kakak segagah dan setampan ini,hahaha”, jawabku dengan tawa. “ Dasar, adikku genit juga ternyata”, sahut kakak sambil memelukku dari belakang. Inilah kisahku kawan, apa kisahmu? Apapun yang terjadi dalam hidup ini pasti ada hikmah dibalik kisah hidup manusia. Yakin dan berserah dirilah pada Allah.

ini kisahku, apa kisahmu?


Gerimis malam ini menemaniku dalam kesunyian nyanyian malam yang indah. Pikir ini melayang akan peristiwa yang telah terjadi siang tadi. Ahh entah ini nyata atau hanya sekedar mimpi. Rasanya mustahil jika kejadian tadi benar adanya. Ya, siang tadi tepatnya setelah pulang sekolah. Aku bertemu seorang pria yang tergolong masih muda, umurnya sekitar 25-an mungkin. Pria itu tinggi gagah,kulitnya putih bersih, dan senyum simpulnya yang manis, heemmm…
Aku terburu-buru takut pulang dan tak sengaja menabrak pria itu dari belakang. Alhasil barang bawaan kita berhamburan ke tanah. Karena tak ada waktu lagi akupun segera memunguti barang-barang yang berjatuhan. Pria itu hanya tersenyum tipis dan dengan rasa malu aku segera meminta maaf.
          Peristiwa itu seakan cepat berlalu, tak ada slow motion layaknya adegan sinetron di TV. Sesampainya di rumah aku langsung cuci kaki, makan, salat, dan belajar. Namun aku terus teringat wajah pria itu, sepertinya aku pernah melihat sebelumnya tapi entah dimana. Saat ku buka tas, aku menemukan buku harian pria itu. “ Ya Tuhan, buku pria itu terbawa olehku”, sesalku dalam hati.  Ku coba membuka harian berwarna cokelat tersebut. Saat pertama ku buka buku itu terselip sebuah foto perempuan yang mirip sekali denganku. “ Astaga!! Siapa perempuan ini?? Apakah ini aku?”, teriakku.
Siapakah sebenarnya pria itu? Dan siapa perempuan yang mirip denganku ini? Kuurungkan niatku untuk membaca buku hariannya. Aku sadar ini bukan milikku jadi aku gak berhak mengetahui isinya, segera ku tutup buku itu dan aku bertekad untuk segera mengembalikannya lagi pada pemiliknya. Keesokan harinya aku baru sadar bahwa pria itu mirip sekali dengan pria yang selalu hadir dalam mimpiku akhir-akhir ini. Dan setiap bangun dari mimpi aku semakin merindukan pria itu, ada apa dengan pria itu?

#to be continued